Juli 4, 2007

Sekilas Salafi dan Wahabi

Posted in Artikel pada 8:50 am oleh wahabiwatch

Oleh: Ust. Abu Sukainah

 

Bahasa sebagai alat komunikasi dalam upaya menjelaskan tujuan hidup kepada selainnya adalah suatu anugrah dari Allah SWT sehingga sesama manusia dapat saling mengenal. Dan perkembangan komunikasi memunculkan banyak istilah yang bertujuan mempermudah manusia untuk menjelaskan mabda’ atau pijakan dasar pemikirannya, juga membagi-bagi manusia kepada kelompok dengan status, sifat gerakan, madzhab dsb. Salah satunya adalah ‘salafi’ yang dinisbatkan kepada kelompok yang menganggap hanya diri mereka yang mengikuti ajaran orang terdahulu (yang dimaksudkan adalah para sahabat nabi dan ahli hadits). Ibnu Taimiyah, yaitu Ahmad bin Abdulhalim Al-Harraani Ad-Damsyiqi termasuk orang yang menyebut dirinya sebagai salafi.

Dia dilahirkan pada 10 Rabiul awal 661H di kota Herraan, lima tahun setelah kejatuhan khilafah Islam di Baghdad. Faham dan pemikiran ibn Taimiyah banyak bertentangan dengan ulama di zamannya, seperti Syekh Safiuddin Al-Hindi Al-Armawi (715H), Syekh Syihabuddin ibn Jahbal Al-Kilaabi Al-Halabi (733H) atau Al-Haafidz Syamsuddien Muhammad bin Ahmad Adz-Zahabi (748H) dan banyak lagi ulama lainnya. Hal itu dikarenakan Ibn Taimiyah telah mengambil ayat dan riwayat secara harfiah, sehingga mensifatkan Tuhan dengan sifat manusia, seperti duduk di singgasana (‘Arsy), menangis, memiliki kaki dan sebagainya. Juga menolak tawassul dan melarang ziarah kubur, termasuk kubur para nabi sekalipun.

Dan gerakan salafiah yang kita saksikan sampai saat ini semuanya dinisbatkan kepada pemikiran Ibn Taimiyyah. Berbeda lagi dengan gerakan Wahabi yang lebih sering menyebut diri mereka sebagai salafi, dikarenakan enggan mengingat sejarah hitam bangkitnya gerakan ini.

Nama Wahabi atau al-Wahabiyyah dihubungkan dengan nama `Abd al-Wahhab  yaitu ayah dari pendirinya, al-Syaikh Muhammad bin `Abd al-Wahhab al-Najdi. Nama Wahabi tidak disukai oleh penganutnya dan mereka menamakan diri sebagai golongan al-Muwahhidun (unitarians), karena mereka  ingin mengembalikan ajaran tauhid dalam Islam dan memurnikan sunnah Rasulullah.

Mazhab Wahabi pada saat ini sangat mirim dengan golongan al-Hasyawiyyah pada abad awal Era Islam. Istilah al-Hasyawiyyah berasal dari kata dasar al-Hasyaw yang berarti penyisipan, pemasangan dan kemasukan. Nama ini diberikan kepada mereka yang mempercayai semua hadits yang dihubungkan kepada Nabi saw dan para sahabat beliau berdasarkan pengertian bahasa semata, tanpa melakukan penilaian ulang.

Al-Syahrastani (467-548H/1074-1153M) dalam kitabnya al-Milal wa al-Nihal, h.141.menulis bahwa: “Terdapat sebuah kelompok Ashab al-Hadith, yaitu al-Hasyawiyyah dengan jelas menyatakan kepercayaan mereka tentang Tashbih (Allah seperti makhluk-Nya) sehingga mereka sanggup mengatakan bahwa pada suatu ketika, kedua mata Allah sedih, kemudian para malaikat datang menemui-Nya. Allah sedih dan menangis karena banjir Nabi Nuh (`a.s) sehingga mata-Nya menjadi merah, dan `Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui Arasy melebihi empat jari di segenap sudut.

Muhammad bin `Abd al-Wahhab lahir di perkampungan `Uyainah, di Najd bagian selatan pada tahun 1115H/1703M, sedangkan ayahnya yang bernama `Abd al-Wahhab adalah Qadi kampung itu.

Muhammad pernah belajar dengan ayahnya, yang merupakan salah seorang  ulama al-Hanabilah. Sejak kecil dia sangat rajin dengan pengkajian dan belajar kitab tafsir, hadith dan akidah. Beberapa tahun dari kehidupannya dilalui dengan pengembaraan sambil berdagang di kota-kota Basrah, Baghdad, Iran, India dan Damsyik. Di Damsyik lah dia menemukan kitab-kitab karangan Ibn Taimiyyah al-Harrani (m.728H/1328M) yang mengandungi ajaran-ajaran yang  kontroversi dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.

Dia kembali ke Najd, lalu berpindah ke Basrah, dan melanjutkan perjalanannya ke Syam. Di Basrah dia menyampaikan dakwahnya kepada orang ramai untuk tidak melakukan beberapa macam kegiatan agama dan menentang perbuatan tersebut. Penduduk Basrah bangkit menentangnya, lalu mengusirnya. Kemudian dia melarikan diri ke kota al-Zabir.

Pada tahun 1139H/1726M, ayahnya pindah dari `Uyainah ke Huraymilah dan dia turut dengan ayahnya dan melanjutkan belajar padanya, tetapi masih tetap melakukan penentangan yang kuat terhadap amalan agama di Najd, sehingga menyebabkan terjadinya pertentangan dan perselisihan antara dirinya dengan ayahnya dan dengan penduduk Najd.. Keadaan tersebut terus berkelanjutan sampai tahun 1153H/1740M ketika ayahnya meninggal dunia.(Al-Alusi, Tarikh Najd, h.111-113).

Kemudian dia kembali ke ‘Uyainah dan menjalain kesepakatan dengan ‘Usman bin Hamad, penguasa saat itu, bahwa dia akan memegang kekuasaan dalam perundangan Islam (al-tasyri`) sedangkan ‘Usman memegang kekuasaan eksekutif. Pemerintah `Uyainah mendukung Muhammad dengan kekuasaan serta kekuatan dan Muhammad bin `Abd al-Wahhab  menyeru manusia untuk mentaati pemerintah dan menjadi pengikutnya..

Berita itu akhirnya sampai kepada pemerintah al-Ahsa’ bahwa Muhammad bin `Abd al-Wahhab telah mengajarkan bid`ahnya, dengan mendapat dukungan pemerintah `Uyainah. Penguasa al-Ahsa’  lalu mengirimkan surat peringatan dan ancaman kepada pemerintah `Uyainah, sehingga Utsman bin Hamad menjadi khawatir  atas ancaman tersebut, lalu  mengusir Ibn Wahhab pada tahun 1160H/1747M.

Muhammad keluar dari `Uyainah dan pergi ke Dar`iyyah di Najd yang diperintah oleh Muhammad bin Sa`ud (meninggal.1179H/1765M) yang menyambutnya, memuliakan dan menjanjikan kebaikan kepadanya. Demikianlah sebuah kesepakatan telah dibuat  dan ditetapkan (Salah seorang pengarang `Uthmaniyyah menceritakannya dalam kitabnya, Tarikh Baghdad, h.152 tentang awal hubungan antara Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan keturunan Sa`ud dengan cara yang berbeda tetapi intinya sama). Penduduk’ Dar`iyyah mendukung kesepakatan ini sehingga Muhammad ibn `Abd al-Wahhab dan Muhammad bin Sa`ud meresmikan perjanjian atau memorandum of understanding (`aqd al-Ittifaqiyyah) ini.

Ibn `Abd al-Wahhab melakukan mu`amalah buruk kepada umat Islam yang tidak mau tunduk kepada pendapatnya, mereka dianggap sebagai kafir harbi yang  halal harta dan darahnya. Sehingga Wahhabi menguasai  Najd dan kawasan di luarnya seperti Yaman, Hijaz, sekitar Syria dan `Iraq. Mereka meraup harta yang berlimpah dari kota-kota yang mereka kuasai (Tarikh Mamlakah al-`Arabiyyah al-Sa`udiyyah, Vol. I, h..51).

Ibn Wahhab memerintahkan orang yang mau mengikuti dakwahnya supaya memberikan bai`ah dan orang yang enggan wajib dibunuh dan dirampas hartanya. Dalam proses melenyapkan dan membersihkan penduduk di sekitar al-Ahsa’ yang tidak mau memberikan bai`ah, mereka telah  membunuh 300 orang dan merampas harta mereka.(ibid)

Ibn Wahhab meninggal dunia pada tahun 1206H/1791M tetapi para pengikutnya terus melanjutkan mazhab. Pada tahun 1216H/1801M, al-Amir Sa`ud al-Wahhabi mempersiapkan tentara besar terdiri daripada 20 000 orang dan melakukan serangan ke  kota suci Karbala’ di `Iraq. Tentara Wahhabi mengepung dan memasuki kota itu dengan melakukan pembunuhan, perampasan dan kebinasaan. Mereka membunuh 5000 muslimin, malah ada yang menyebutkannya sebanyak 20.000 orang Islam.

Tentara Sa`ud lalu merampas khazanah haram Al-Husayn bin `Ali yang banyak berisi harta, perhiasan dan hadiah yang diberikan oleh raja, pemerintah dan lain-lain kepada maqam suci ini, sehingga para penyair menyusun qasidah-qasidah penuh dengan rintihan, keluhan dan dukacita (Dr. `Abd al-Jawwad, Tarikh Karbala’, h.112).

Karena sejarah hitam inilah Wahabi lebih sering menyebut diri mereka sebagai salafi, tetapi sejarah yang telah ditulis oleh Muhammad ibn Abdulwahhab dengan mengkafirkan dan menghalalkan darah siapa saja yang berbeda keyakinannya terus berlangsung.[]

    

Mei 15, 2007

Posted in Komentar pada 7:57 am oleh wahabiwatch

Assalamualaikum wr. wb.

Blog ini, insyaallah, akan memuat analisis, opini, artikel, info, sekaligus ajang diskusi seputar wahabisme dan penganut-penganutnya, berikut gerakan hingga kasak-kusuknya yang mencemaskan dan punya tali temali dengan kekuatan dominan dan hegemonik dunia untuk menghancurkan Islam lewat pintu belakang. Minta doa dan dukungan dari teman2, Sunni maupun Syi’i. Semoga mendapat ridho-Nya dan semua Muslimin senantiasa berada dalam naungan kasih, penjagaan, dan rahmat-Nya.

Wassalam